IT and Astronomy Development Division

Rukyatul Hilal 1 Dzulhijjah dan Pengenalan Ilmu Falak pada Santri Darul Ulum

  • Author: 

Lhoknga, 14 Agustus 2018 – Mentari bergelayut di langit barat, bersiap untuk menjemput malam. Bayangannya jatuh disapu ombak, tercerai berai, menari-nari di permukaan laut Lhoknga.

Perlahan tarian menghilang, angkasa berubah muram. Langit yang tadinya terang benderang tertutup awan. Tebal. Hitam. Rintik hujan turun perlahan.

Rencana pengamatan sabit awal Zulhijjah terancam bubar. Bila langit tak kunjung cerah, tentu hilal akan tersembunyi di baliknya.

Ustadz Aznur, anggota Tim Falakiyah Kementerian Agama Provinsi Aceh, terlihat resah. Pun demikian Ustadz Rahmatul Fahmi, pembina Bidang Pengembangan Teknologi Informasi & Astronomi Darul Ulum yang hari ini membawa santri praktik rukyatul hilal. Keduanya memilih menunggu. Berharap hal baik akan datang.

Sering kali memang, rukyatul hilal diganggu oleh berbagai cobaan. Tapi hujan dan awan, adalah musuh abadi pengamatan langit. Kita perlu berdamai saat mereka hadir. Menunggu mereka lewat lebih masuk akal ketimbang mengajak berkelahi.

Sambil menikmati sunset Minggu petang, dari balkon observatorium yang menghadap ke laut, santri mendengar penjelasan pembina. Mulai dari mekanisme rotasi dan revolusi bulan, hingga muncul fenomena sabit, purnama, bulan baru, juga tentang gerhana bulan seperti 28 Juli 2018 lalu itu.

Santri yang hadir Minggu (14/8) kemarin istimewa. Dari 28 juara kelas, adik-adik ini sepuluh terbaiknya.

Mereka adalah sepuluh juara umum Darul Ulum semester genap yang lalu. Kesepuluhnya adalah Syifaurrahmi, Rifa Azkia Halva, Jazil Mubarak, Firyal, Rahmayanti, Siti Raudhatin Humaira, Sayed Danial Al Jamalulay, Amira Fauza Adnan, Durratul Irfana, dan Raswandi. Selain itu juga hadir dua perwakilan Organisasi Pelajar Dayah Modern (OPDM) Darul Ulum yang menyertai. Mereka diajak untuk belajar ke lapangan kali ini, menyaksikan keindahan alam sekaligus menunjukkan keagungan Allah swt melalui ciptaan-Nya.

Lima menit menjelang azan Maghrib, awan hitam yang membawa banyak benih hujan itu pergi. Lokasi perkiraan yang akan dilewati bulan, terbuka perlahan.

Tapi muncul masalah baru. Di balik awan tadi, ternyata ada awan alto stratus menutupi matahari sore itu. Lebarnya masya Allah.

“Hahahaha.” Keduanya tertawa bersama. Rasa kecewa dan lelucon bisa sedekat ini kadang-kadang.

“Kalau memang rezeki adik-adik ini kita bisa lihat bulan baru. Itu ada sedikit celah.” Kata Ustadz Aznur.

Matahari tenggelam penuh pukul 18.53 sore. Terang perlahan memudar, bersiap untuk menyambut gelapnya malam. Golden time untuk pengamatan sabit awal bulan Zulhijjah dimulai.

Tapi awan masih di situ! Menutup sebagian besar bagian langit di ufuk barat.

Di tengah sayup-sayup suara azan, Ustadz Aznur berhasil menemukan hilal yang dicari. Lewat lubang intip teleskop, tampak jelas benang putih kekuningan melengkung setengah bola. Itulah sabit muda yang dicari. Alhamdulillah. Posisinya pas di celah kecil awan tadi.

Dengan demikian berarti terkonfirmasi secara rukyat, bahwa Senin, 13 Agustus 2018 sebagai tanggal 1 Dzulhijjah dan hari raya Idul Adha 1439 H jatuh pada Rabu, 22 Agustus 2018. Namun untuk pengumuman resmi tetap merujuk pada maklumat Menteri Agama.

Satu persatu santri dan pengunjung kemudian dipersilahkan untuk ikut menyaksikan dan mendapat penjelasan.

Itulah yang dicari pemburu hilal, oleh mata-mata yang penuh selidik, saban akhir Sya’ban dan akhir Ramadhan. Sebab kita yang bermazhab Syafi’ie, baru puasa jika bisa melihat bulan. Mau lebaran juga mesti lihat bulan dulu. Penasaran tentang benang kekuningan melengkung di langit maghrib awal Zulhijjah terbayar sudah. Lunas di maghrib ini.

Rukyatul hilal adalah proses mengamati bulan sabit pertama setelah peristiwa konjungsi. Kondisi bulan yang baru dalam fase sabit sangat kecil dan segera tenggelam tidak lama setelah matahari tenggelam, menyulitkan pengamatan jika langitnya sangat terang. Itu sebabnya pengamatan baru bisa dilakukan saat matahari tenggelam sepenuhnya, dengan waktu yang hanya sekitar 15-60 menit.

Usai memberi penjelasan singkat, Tim Falakiyah Kanwil Kemenag segera mengabadikan hilal dengan kamera digital.

Bulan ini jaraknya 380.000 km dari bumi. Sedangkan matahari jaraknya 150.000.000 km. Tapi meski jauh, dia bersama matahari disebut secara khusus di dalam Al Quran.

Dalam QS Yunus ayat 5 Allah swt menerangkan bahwa salah satu hikmah penciptaan matahari dan bulan adalah sebagai bentuk pengajaran tentang waktu bagi manusia. Beragam ibadah mahdhah diikat oleh waktu, seperti shalat fardhu, puasa ramadhan, juga haji dan qurban. Tidak sah melaksanakan ibadah-ibadah tersebut di luar waktu yang ditentukan.

Khusus Ramadhan, kita diperintahkan untuk berpuasa saat melihat sabit muda ini. Sedangkan jika tidak terlihat, diminta untuk menyempurnakan bilangan bulan Sya’ban menjadi 30 hari. Yang terakhir itu disebut istikmal.

Bagi Bidang Pengembangan Teknologi Informasi dan Astronomi Darul Ulum (PTIA), kegiatan ini rutin dilakukan setiap akhir bulan qamariyah di Observatorium Tgk. Chik Kuta Karang, Lhoknga. Sejak 2016 lalu, PTIA membentuk komunitas astronomi santri yang melibatkan santri Darul Ulum peminat astronomi Islam.

Khusus bagi santri kelas 2 ulya, santri Darul Ulum juga memiliki mata pelajaran khusus ilmu falak sebagai pelajaran wajib. Mereka mengkaji ilmu ukur arah kiblat dan menghitung waktu shalat.

Selain rukyatul hilal, PTIA Darul Ulum saban hari Minggu juga mengadakan seminar astronomi umum bagi santri. Jika langit cerah pada malam hari, santri juga diajak melihat benda langit dengan menggunakan teleskop SkyWatcher BK909 EQ2 milik dayah.

Sering juga Darul Ulum mengadakan kegiatan gabungan dengan dayah lain dan juga kerjasama dengan Tim Falakiyah Kanwil Kementerian Agama Provinsi Aceh. Baik kegiatan seminar, pengamatan, sampai kegiatan kerjasama event pameran pendidikan.

Upaya untuk mendekatkan santri dengan astronomi Islam terus digalakkan Darul Ulum. Terlebih generasi milenial yang ahli ilmu falak di Serambi Mekkah kini tidak banyak jumlahnya, sedangkan banyak ibadah kita bergantung pada ilmu ini.

Hasil yang telah tampak sejauh ini, santri Darul Ulum menjadi semakin tertarik dengan astronomi Islam. Kegiatan-kegiatan bertema astronomi semakin banyak peminatnya. Santri terus bertanya kapan lagi akan ada event astronomi berikutnya yang bisa mereka ikuti?

Di samping itu, berturut-turut dalam 2 tahun terakhir, Darul Ulum terus mengirimkan utusan ke Jurusan Ilmu Falak UIN Walisongo, Semarang. Tahun lalu ada Rahmalia dan tahun ini Wali Cosara menyusul kakaknya setelah berhasil menaklukkan seleksi nasional Program Beasiswa Santri Berprestasi.

Semoga segala niat dan upaya baik kita bersama bisa memberi sumbangsih nyata bagi pengembangan ilmu falak Aceh ke depan. (admin)

    

One Response to “Rukyatul Hilal 1 Dzulhijjah dan Pengenalan Ilmu Falak pada Santri Darul Ulum”

Leave a Reply