IT and Astronomy Development Division

Begini penjelasan Pakar Falakiyah Aceh Tentang Perbedaan 1 Dzulhijjah Indonesia-Saudi

Citra Hilal 1 Dzulhijjah 1439 H yang diabadikan Tim Falakiyah Kementerian Agama Provinsi Aceh pada Minggu, 12 Agustus 2018 di Observatorium Tgk Chik Kuta Karang, Lhoknga.

  • Author: 

Banda Aceh, 20 Agustus 2018 – Bagi warga Aceh, 1 Dzulhijjah terhitung sejak matahari terbenam hari Minggu, 12 Agustus 2018 pukul 18:52 WIB, sedangkan di Arab Saudi, 1 Dzulhijjah terhitung sejak matahari terbenam pada hari Sabtu, sehari sebelumnya. Hal ini terjadi karena pada Sabtu, hilal belum wujud di langit Aceh, sedangkan pada saat matahari terbenam di Arab Saudi pada Sabtu sore, hilal sudah dapat terlihat. Ini berarti hilal baru dapat disaksikan di Aceh 20 jam setelah Saudi melihatnya, atau sehari setelahnya.

Dr. Suhrawardi Ilyas, M.Sc, anggota Badan Hisab dan Rukyat Provinsi Aceh

Demikian penjelasan Dr. Suhrawardi Ilyas, M.Sc, anggota Badan Hisab dan Rukyat Provinsi Aceh dalam laman Facebook miliknya, Senin (20/8).

Penjelasan Dr. Suhra sejalan dengan hasil pengamatan di lapangan sejak Sabtu (11/8) sore di Observatorium Tgk. Chik Kuta Karang, Lhoknga. Tim Falakiyah Kementerian Agama Provinsi Aceh mengonfirmasi bahwa pada sore Sabtu hilal tidak terlihat baik secara kasat mata, maupun dengan menggunakan instrumen teleskop.

Hilal baru dapat terlihat di langit Aceh pada hari Minggu, (12/8), pukul 18.52 WIB oleh Tim Falakiyah Provinsi Aceh dan Santri Darul Ulum yang turut melakukan pengamatan bersama. Wujud hilal bahkan sempat diabadikan oleh tim dengan kamera DSLR.

 

Feature News-Santri Darul Ulum mengamati hilal Awal Dzulhijjah bisa dibaca di sini.

Polemik penentuan awal bulan Dzulhijjah 1439 H ini sedang hangat dibicarakan oleh masyarakat. Sebabnya karena ada selisih penentuan tanggal 1 Dzulhijjah 1439 H antara Pemerintah Indonesia dengan Kerajaan Arab Saudi. Yang berarti, Idul Adha di Indonesia yang jatuh pada Rabu (22/8) tidak bersamaan dengan wuquf di Arafah yang berlangsung pada Senin (20/8).

“Sebenarnya tidak berbeda,” ungkap Dr. Suhra. Menurutnya hal ini terjadi karena keistimewaan kalender Islam yang sepenuhnya menentukan pergantian bulan setelah terlihatnya hilal. Sedangkan kalender Masehi menggunakan perhitungan hari yang tetap, dimana pergantian harinya ditetapkan pada garis bujur 180 derajat di Pasifik. Sehingga awal bulan qamariyah tidak harus sama di setiap tempat, tetapi bergantung pada keterlihatan hilalnya. Kali ini Saudi melihat hilalnya lebih awal, di Aceh baru bisa kita lihat sehari setelahnya.

“Jadi saat wuquf sedang berlangsung di Saudi, kita memasuki tanggal 9 Zulhijjah, yang artinya sebenarnya tak ada beda hari antara kita dengan Saudi. Hanya Saudi lebih cepat beberapa jam (sekitar 20 jam).” Jelas Dr. Suhra saat Darul Ulum Magazine mengonfirmasi informasi yang dibagikannya.

Dalam pengamatan hilal, hilal dapat diamati setelah matahari terbenam setiap akhir bulan qamariyah, jika telah melalui proses ijtima’. Ijtima’ adalah kondisi bumi dan bulan berada pada posisi bujur langit yang sama jika di amati dari bumi. Pada saat itu, bagian terlihat bulan membelakangi bumi. Baru setelah beberapa jam pasca bulan melewati kondisi ijtima’ dan kondisi langit yang cerah, sabit muda awal bulan dapat diamati seperti benang tipis melengkung di langit barat sesaat setelah matahari terbenam di hari itu.

Kutipan lengkap penjelasan Ustadz Dr. Suhrawardi Ilyas, M.Sc pada laman Facebook pribadinya, Suhra Ilyas kami tampilkan sebagai berikut.

(admin)

    

Leave a Reply